News & Article Details

aspartam

Aspartam: WHO Segera Rilis Sebagai Karsinogen

Aspartam yang populer dipakai sebagai pengganti gula, akan segera resmi dinyatakan sebagai zat karsinogen oleh International Agency for Research on Cancer (IARC). IARC, lembaga riset yang berafiliasi dengan WHO, akan merilis data terbaru ini pada tanggal 14 Juli 2023.

IARC akan merilis monograf yang menjelaskan potensi bahaya dari aspartam sebagai pemicu kanker dan sifat-sifat aspartam. Namun, hasil IARC tidak mencerminkan seberapa tinggi risiko terkena kanker pada tingkat paparan tertentu.

Penilaian tersebut akan dilengkapi oleh WHO JECFA. JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) memberikan penilaian risiko yang menentukan jenis bahaya tertentu, dalam hal ini kanker, yang akan terjadi dalam kondisi dan tingkat paparan tertentu.

Fakta terbaru mengenai aspartam yang mengandung zat karsinogen, akan sepenuhnya mengubah industri F&B. Bagaimana aspartam dijadikan pemanis pada minuman kemasan? Bagaimana cara kita menganalisis kandungan aspartam pada minuman?

Aspartam Sebagai Pemanis Pengganti Gula

Aspartam ditemukan secara tidak sengaja oleh ahli kimia bernama James Schlatter pada tahun 1965. Baru di tahun 1983, FDA menyetujui penggunaannya untuk minuman bersoda dan mengesahkan sebagai pemanis makanan dan minuman pada tahun 1996. FDA memperbolehkan asupan harian aspartam sebesar 40mg/kg berat badan.

Selama ini, aspartam terkenal sebagai pemanis buatan yang rendah kalori. Rasa manisnya melebihi gula konvensional. Gula putih dibuat dari dua karbohidrat, glukosa dan fruktosa. Sedangkan aspartam terdiri dari asam amino, asam aspartat, dan fenilalanin.

Aspartam banyak dikaitkan dengan beberapa masalah kesehatan, seperti kardiovaskular, Alzheimer, stroke, demensia, dan penambahan berat badan. Selain itu, National Cancer Institute melaporkan hasil studi terkait hubungan aspartam dan kanker pada tahun 2022. Sebanyak 103.000 subjek yang mengonsumsi aspartame dalam jumlah tinggi (1,15x lipat) ternyata lebih rentan untuk terkena kanker, terutama kanker payudara.

Risiko tersebut tentunya akan berdampak pada perusahaan F&B yang menggunakan aspartam sebagai pemanis diproduk-produknya. Pemanis tersebut adalah bahan penting dalam diet soda. Di samping itu, juga ditemukan dalam milk tea, permen karet, jelly, dan roti.

Sampai saat ini, banyak pihak yang menunggu laporan evaluasi IARC terbit secara menyeluruh. Pertanyaannya, apakah perusahaan F&B di Indonesia akan merubah komposisi produknya sehubungan dengan laporan tersebut?

UPDATE: BPOM telah memberikan pernyataan terkait penggunaan aspartam pada hari ini. Regulasi penggunaan pemanis tersebut di Indonesia, masih tetap sama. Pemanis tambahan ini masih diperbolehkan digunakan dalam batas maksimum sesuai yang ditetapkan pada PerBPOM Nomor 11 tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan. Hal ini didasari karena Codex General Standard for Food Additives (CODEX GSFA) masih mengizinkan aspartam sebagai pemanis buatan dalam produk pangan.

Investigasi Kadar Aspartam dalam Minuman

Metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC) sangat mumpuni dan dapat diandalkan dalam analisis aspartam pada makanan dan minuman. Hal ini didukung oleh banyaknya jurnal yang menggunakan HPLC dengan detektor Diode Array Detection sebagai metode teknik analisisnya (Jiasi et al., 2022 dan  Oktavirina et al., 2021).

Sampel cair, seperti minuman soda, jus, dan air limbah, dapat dipreparasi menggunakan teknik SPE. SPE adalah teknik preparasi yang efektif diterapkan untuk menganalisis senyawa dalam sampel cair.

Dalam studi yang ditulis oleh Jiasi, data terkait recovery dan presisi dirinci dalam Tabel 1 dan 2. LOD masing-masing adalah 0,52 dan 0,48 μg g-1 untuk aspartam dan alitam, dan LOQ untuk analit yang sama adalah 1,72 dan 1,58 μg g-1.

Nilai recovery dan RSD aspartam dalam sampel
Tabel 1. Nilai RSD dan recovery pada sampel uji.
data presisi
Tabel 2. Hasil Uji Presisi.

Hasilnya, hampir setengah dari 100 sampel terdeteksi mengandung aspartam. Zat ini terdeteksi pada 11 sampel dari 40 produk susu cair (27,5%), dan konsentrasinya berkisar antara 2,41 hingga 103,67 μg g-1; 24 sampel dari 42 minuman yang mengandung susu (57,1%), dan konsentrasinya berkisar antara 1,81 hingga 61,49 μg g-1; delapan sampel dari 18 minuman susu yang dijual (44,4%), dan konsentrasinya berkisar antara 2,14 hingga 21,11 μg g-1.

konsentrasi aspartam
Tabel 3. Konsentrasi Aspartam dan Alitam dalam Minuman yang mengandung Susu.

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar analisis pemanis buatan menggunakan HPLC, sila hubungi tim kami di sales@wiralab.co.id.

 

Sumber:

today.com

healthpolicy-watch.news

theguardian.com

aspartame.org

Share the Article