News & Article Details

Kekhawatiran Limbah Nuklir Warisan Oppenheimer

Limbah nuklir yang berasal dari kecelakaan nuklir, uji coba senjata, dan ledakan bom atom membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai. Limbah ini terdiri dari beragam radionuklida aktif, seperti Cesium (137Cs) dan Strontium (90Sr). 137Cs memiliki waktu paruh 30 tahun dan 90Sr 28,8 tahun. Keduanya dapat persisten menetap di lingkungan.

Oppenheimer mungkin tidak memprediksi dampak senjata nuklir yang dibuatnya terhadap keberlangsungan makhluk hidup. Seperti kita ketahui, beberapa negara yang memiliki akses ke tenaga nuklir, memanfaatkannya entah menjadi senjata ataupun pembangkit listrik. Namun, keduanya tetap menghasilkan volume limbah nuklir yang besar.

Kekhawatiran penduduk dunia terhadap cemaran limbah nuklir sangat berdasar. Mengingat durasi ketahanan radionuklida di lingkungan dan efeknya terhadap kesehatan makhluk hidup. Efek kesehatan terpapar nuklir terhadap manusia diantaranya mual, muntah, diare, merusak jaringan kulit, bahkan kanker. Paparan radiasi dapat terjadi melalui udara yang dihirup atau makanan yang ditelan.

Bulan ini, dunia dihebohkan dengan rencana pemerintah Jepang untuk melepaskan limbah air radiokatif yang telah diolah dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi ke Samudera Pasifik. Banyak negara sekitar yang menentang kebijakan tersebut dan menyayangkan keputusan IAEA.

Kontroversi Rencana Pembuangan Limbah Nuklir Fukushima

Sejak tragedi tsunami yang merusak pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, Jepang pada tahun 2011, jutaan ton air limbah nuklir tersimpan di sana. Oleh karena itu, pemerintah Jepang mengatakan bahwa langkah tersebut bukanlah solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Pemerintah Jepang pun menerbitkan kebijakan pengelolaan air limbah nuklir pada bulan April 2021.

Jepang memutuskan untuk melepaskan air secara bertahap ke Samudera Pasifik selama 30 tahun. Segera setelah keputusan dibuat, Jepang meminta IAEA melakukan tinjauan keamanan terhadap implementasi tersebut. Tepco, selaku pemilik PLTN Fukushima Daiichi, berupaya mengurangi sebagian besar zat radioaktif hingga mencapai standar keamanan yang dapat diterima melalui Advanced Liquid Processing System (ALPS).

Air limbah nuklir dari Fukushima Daiichi dilaporkan mengandung 137Cs dan 90Sr. Walaupun Tepco menjanjikan keamanan ALPS dalam menyaring radionuklida (kecuali tritium), namun penting untuk memahami potensi kadar radionuklida non-tritium. Selain itu, perlu juga mempersiapkan diri untuk situasi terburuk.

Cina dan Korea Selatan telah menentang kebijakan pemerintah Jepang dan IAEA. Tanggal 7 Juli 2023, Kementerian Luar Negeri Cina menyatakan kebijakan pelarangan impor produk boga bahari dari Fukushima dan sembilan daerah lainnya di Jepang. Sejalan dengan pemerintah Cina, Korea Selatan memberlakukan kebijakan serupa.

Analisis 90Sr dalam Sampel Lingkungan dengan Spektrometer Massa

Strontium radioaktif (90Sr) umum ditemukan pada lokasi yang mengalami kontaminasi akibat kecelakaan nuklir atau uji coba senjata nuklir. Seperti contoh, kandungan 90Sr dalam air ditemukan setelah musibah tsunami yang merusak PLTN Fukushima Daiichi. Pemantauan konsentrasi 90Sr di lingkungan sangat penting. Jika, manusia mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi, 90Sr akan terkonsentrasi di tulang dan sumsum tulang mengakibatkan kanker tulang, kanker jaringan di sekitarnya, dan leukimia.

Umumnya, 90Sr diukur menggunakan teknik radiometric, seperti scintillator cair atau detektor ionisasi gas. Namun, metode tersebut memiliki kekurangan dalam hal total waktu analisis yang panjang, yaitu 5 – 20 hari. Spektrometer massa mengurangi waktu analisis, sehingga meningkatkan hasil analisis. Penelitian yang dilakukan oleh Kavasi dkk., menunjukkan penggunaan TIMS dengan filter energi WARP, yang tidak berpengaruh dalam peak tailing pada sisi peak yang mempunyai masssa tinggi.

Kemampuan Retarding Quadrupole (RPQ) dari TIMS seri Triton untuk mengukur rasio 90Sr/88Sr 9,1×10-12 ± 2,6×10-12 (2 SD, n=34) secara tepat dan akurat dibuktikan pada Gambar 1. Hasil ini memungkinkan sampel dengan aktivitas yang sangat rendah dapat diukur.

sensitivitas non radioaktif Sr
Gambar 1. Sensitivitas Sr non-radioaktif (SRM 987) di tiga sesi analisis yang berbeda. Setiap titik data mewakili pengukuran 1 jam pada 20 dan 25 V pada 88Sr. Error bars menunjukkan presisi internal (2 SE). Perhatikan bahwa data ini tidak dikoreksi dengan dark noise).

Beberapa sampel lingkungan radioaktif diukur untuk menentukan rasio 90Sr/88Sr (Gambar 2). Pengukuran dilakukan pada Bremen dan Fukushima selama 3 sesi analisis (terpisah 2 tahun). Gambar menunjukkan korelasi yang baik antara 90Sr/88Sr yang terukur dari sampel dengan decay-corrected reference value.

 

Penentuan rasio 90Sr/88Sr untuk berbagai sampel lingkungan.
Gambar 2. Penentuan rasio 90Sr/88Sr untuk berbagai sampel lingkungan. Nilai referensi terkoreksi peluruhan (dikoreksi ke tanggal pengukuran) ditampilkan dalam warna abu-abu. Sesi analisis yang berbeda dipisahkan di sini karena perbedaan dalam 90Sr/88Sr akibat peluruhan radioaktif dari waktu ke waktu.

Variabilitas 90Sr/88Sr dalam sampel IAEA-330 memiliki RSD terendah dari semua sampel yang diukur (Gambar 3). Untuk semua sampel, presisi internal sangat dekat dengan batas teoretis berdasarkan statistik penghitungan, yang menunjukkan presisi luar biasa yang dapat diperoleh dengan TIMS Seri Triton.

Plot silang deviasi standar relatif rasio 90Sr/88Sr untuk setiap filamen terhadap batas teoretis berdasarkan statistik penghitungan.
Gambar 3. Plot silang deviasi standar relatif rasio 90Sr/88Sr untuk setiap filamen terhadap batas teoretis berdasarkan statistik penghitungan.

Kemampuan TIMS seri Triton yang digabungkan dengan RPQ untuk mengukur kadar 90Sr yang rendah dari berbagai sampel lingkungan, telah ditunjukkan melalui aplikasi note ini.

Jika Anda memiliki pertanyaan terkait Triton XT TIMS dan aplikasi dalam dunia nuklir, silakan hubungi sales@wiralab.co.id

  

Sumber:

foreignpolicy.com

apnews.com

Huipeng, Liao; Danyi, Sun; dkk. 2023. Health Impact of Nuclear Waste Discharge from the Fukushima Daiichi Nuclear Plant

IAEA Comprehensive Report on the Safety Review of the ALPS-Treated Water

Share the Article
X

Contact Us

Drop your questions below, our representative team will get back to you within 24 hours

Find Us

Download

Download Brochure
Download E-Catalogue