News & Article Details

Polusi Udara Penyebab Langit Berkabut Jakarta

Polusi udara di Jakarta kian meresahkan. Lantaran hal ini, banyak warga yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyatakan bahwa rata-rata 100 ribu warga Jakarta tercatat mengalami ISPA setiap bulannya akibat dari kualitas udara yang memburuk.

Bulan Agustus 2023, Jakarta pernah tercatat sebagai kota paling berpolusi di dunia. Secara konsisten Jakarta menempati peringkat 10 kota paling terkontaminasi secara global, menurut IQAir. Walaupun hari ini (25/8/2023) Jakarta tidak menduduki peringkat pertama kota berpolusi, namun kualitas udara Jakarta masih tidak sehat. Berdasarkan Indeks AQI, konsentrasi PM2.5 Jakarta saat ini 14,8 kali dari nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.

Dalam rangka mengatasi isu polusi udara di Jakarta, pemerintah memberlakukan beberapa kebijakan, seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS) bekerja di rumah selama dua bulan, menaikkan tarif parkir milik Pemprov DKI dari Rp 5.000/jam menjadi Rp 7.500/jam dan razia uji emisi. Namun, apakah usaha tersebut efektif dalam menanggulangi polusi udara?

Polusi Udara Bukanlah Isu yang Prioritas

Berbeda dengan isu pangan, pengangguran, dan pendidikan, masalah kerusakan lingkungan tidak menjadi fokus di Indonesia. Menurut pengamat politik dan kebijakan publik, Andrinof Chaniago, isu lingkungan lebih populer di negara menengah ke atas atau negara maju. Sehingga, kebijakan yang dibuat tidak berdampak signifikan. Sementara, kerusakan lingkungan terus berlanjut dan dampaknya telah dirasakan oleh masyarakat.

Langit kota Jakarta sudah tidak pernah biru lagi melainkan abu-abu tertutup kabut asap polusi. Penyumbang terbesar polusi Jakarta adalah kendaraan bermotor. Kepala Deputi BMKG mengungkapkan transportasi menyumbang 67,04% total polusi.

Kendaraan bermotor menghasilkan emisi dalam bentuk partikel kecil dan halus. Partikel ini berdiameter 2,5 μm dan lebih kecil (PM2.5), terdiri dari senyawa anorganik (nitrat, sulfat, ammonium) atau organik (karbon, semi-volatil). Partikel polusi dapat masuk ke dalam paru-paru dan aliran darah karena karakteristik partikel yang sangat kecil. Hal ini berpotensi menyebabkan serangan jantung, asma, gejala pernapasan seperti kesulitan bernapas dan bahkan kematian dini pada orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru.

Pentingnya melakukan Analisis Udara

Polusi udara harus dipantau dan dikelola untuk alasan kesehatan dan lingkungan. Selain itu, polusi juga berdampak terhadap lingkungan bumi. Polusi dapat merusak ekosistem dengan membuat danau dan sungai menjadi asam, mengubah keseimbangan nutrisi di perairan pesisir dan daerah aliran sungai, menguras nutrisi dalam tanah, dan merusak hutan. Ditambah, polusi juga memengaruhi keseimbangan energi bumi dengan menyebarkan radiasi matahari dan mengurangi jarak pandang melalui pembentukan kabut.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. P.14/MENLHK/SETJEN/KUM.1/7/2020 Tentang Indeks Standar Pencemar Udara, menetapkan standar tujuh polutan yang menjadi parameter mutu udara.  Polutan tersebut, yaitu partikulat (PM10); partikulat (PM2.5); karbon monoksida (CO); nitrogen dioksida (NO2); sulfur dioksida (SO2); ozon (O3); dan hidrokarbon (HC). Kategori angka rentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dapat dilihat pada Tabel 1.

rentang ISPU

Cara Cepat Deteksi Sumber PM2.5 

Pengukuran jejak karbon, nitrogen, dan isotop sulfur dari partikel PM2.5 dapat dengan mudah dilakukan menggunakan EA IsoLink IRMS System. Analisis PM2.5 hanya membutuhkan waktu 10 menit.

Aplication Note ini menjelaskan secara detail bagaimana Isotope Ratio Mass Spectrometry (IRMS) digunakan untuk analisis PM2.5. Sampel dikumpulkan dari filter microfiber kuarsa (254 mm x 203 mm x 2,2 μm) di Seoul, Korea Selatan pada bulan November 2016 – Januari 2017.

Sidik jari isotop nitrogen, karbon dan sulfur dari sampel ditampilkan pada Tabel 2 dan diilustrasikan pada Gambar 1. Untuk peristiwa kabut asap yang dianalisis yang mencakup November 2016 hingga Januari 2017, sidik jari isotop karbon (δ13C) berkisar antara -26.33‰ hingga -27.59‰ (rata-rata musiman: -26.8±0.5‰); sidik jari isotop nitrogen (δ15N) berkisar antara 4.19‰ hingga 8.58‰ (rata-rata musiman: 6.7±1.5‰); dan sidik jari isotop belerang (δ34S) berkisar antara 4,01‰ hingga 7,35‰ (rata-rata musiman: 5,8±1,2‰).

Nitrogen dan sulfur isotope fingerprints
Gambar 1. Sidik jari isotop nitrogen dan sulfur dari udara yang disaring dari Seoul, Korea Selatan.
δ15N, δ13C dan δ34S dari sampel filter udara
Tabel 2. δ15N, δ13C dan δ34S dari sampel filter udara dengan rata-rata ± 1σ (n = 3).

Nilai δ13C menunjukkan sedikit variasi dan merupakan indikasi emisi kendaraan, sejalan dengan data yang baru-baru ini dilaporkan dari Seoul. Nilai δ34S menurun dari 7,35 ‰ menjadi 4,01 ‰ dan nilai δ15N meningkat dari 4,2 ‰ menjadi 8,6 ‰ seiring dengan meningkatnya polusi udara. Peningkatan nilai δ15N dan nitrogen total terutama terkait dengan pembakaran batu bara dan kedua terkait dengan emisi kendaraan. Nilai δ34S menunjukkan sumber bahan bakar fosil dan bukan aerosol maritim atau sumber sulfur biogenik, yang berkorelasi dengan pembakaran batu bara selama pemanasan musim dingin di Cina bagian utara dan timur laut.

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar aplikasi identifikasi partikel PM2.5 dalam polusi udara, silakan hubungi tim kami di sales@wiralab.co.id.

 

Sumber:

www.cnnindonesia.com

www.20detik.com

www.mediaindonesia.com

Share the Article
X

Contact Us

Drop your questions below, our representative team will get back to you within 24 hours

Find Us

Download

Download Brochure
Download E-Catalogue